Surat Terbuka untuk Negara : Ketika Guru Dipaksa Sempurna, Padahal Hanya Manusia yang Ingin Didengar dan Sejahtera. Oleh : Lihali Maratus Solihah

Surat Terbuka untuk Negara: Ketika Guru Dipaksa Sempurna, Padahal Hanya Manusia yang Ingin Didengar dan Sejahtera.

Oleh: Lihai Maratus Solihah

 

Pasuruan, 30 Juli 2026

 

Kepada yang terhormat, Bapak Pemikul Negara. Salam hormat dari guru kecil dengan sejuta harap untuk anak-anak bangsa.

 

Lewat surat sederhana ini, saya ingin menyampaikan gambaran wajah pendidikan bukan dari balik meja birokrasi, melainkan apa yang tengah dirasakan oleh guru, orang tua, dan anak-anak di ruang kelas setiap hari. Dalam setiap sekat bilik-bilik ramai tangan-tangan penuh harapan, siapa sangka ternyata menyimpan kesunyian yang tak tersentuh pemerintahan. Menjadi bahan berita di mana-mana, bahkan mungkin sudah sampai di meja pejabat negara namun tetap tak terjamah.

 

Dunia pendidikan layaknya sebagai alat mengoperasikan otak manusia, agar dapat bekerja di bawah tuntutan negara dan kehidupan selanjutnya. Sebagai salah satu elemen masyarakat yang bergiat langsung menyaksikan setiap jengkal pendidikan dari akar, saya memandang bahwa tantangan pendidikan nasional saat ini bukan lagi tentang ketersediaan sarana dan prasarana fisik ataupun digitalisasi semata, Pak. Melainkan lebih kompleks dari pada itu, yaitu terletak pada bagaimana cara kita melindungi kapasitas mental dan kesejahteraan psikologis setiap elemen dalam lingkup dunia pendidikan itu sendiri. Bukan hanya untuk anak didik saja, tapi juga untuk gurunya. Mental anak-anak sedang kelelahan dikejar kurikulum dan tuntutan sistem pendidikan saat ini, sementara guru disibukkan dengan urusan administrasi yang terus bertambah dan rumit. Belum lagi, jika sistem yang dikerjakan diakses secara serentak kemudian galat. Tuntutan kerumitan administrasi ini, mengakibatkan kami menjadi kehilangan waktu lebih intens untuk mendampingi anak-anak secara personal maupun kelompok, Pak.

 

Jangan pikulkan beban administrasi rumit pada guru, Pak. Kami juga manusia, ingin merdeka dan sejahtera. Mengajar dengan penuh cinta, keluasan dalam mendidik sesuai kebijakan yang berlaku, tanpa tuntutan dan ketimpangan, seolah di 'anak tirikan' oleh sistem pemerintahan. Kekurangan buku pelajaran atau bacaan bukan menjadi penghalang di dunia pendidikan saat ini, Pak. Tapi, minat baca anak-anak kita saat ini sedang mengalami krisis yang amat krusial. Daya tarik terhadap gawai lebih mendominasi daripada anak-anak mengakses buku bacaan. Selain itu, keterbiasaan mengonsumsi konten-konten cepat dan sekilas membuat anak-anak menjadi kesulitan untuk fokus membaca teks panjang. Anak-anak juga lebih dominan menghabiskan rentang waktu luang di rumah di hadapan gawai, sehingga waktu untuk membaca dan belajar tersita di hadapan layar. Hal tersebut mengakibatkan kegiatan belajar mengajar sering kali hanya sebatas menuntaskan materi dalam pelaporan kurikulum saja, bukan memberi ruang kebebasan pada anak-anak kita untuk memahami lebih mendalam.

 

Oleh karena itu, surat ini saya buat untuk membuka sedikit jendela kebijakan baru dari Bapak yang lebih memfokuskan di dunia pendidikan untuk peserta didik maupun tenaga pendidik dalam membangun generasi-generasi emas 2045.

 

Pak, tolong tingkatkan jaminan kesejahteraan bagi tenaga pendidik. Pada kenyataannya, dengan mata terbuka lebar maupun tertutup sekalipun negara seolah buta dengan nasib para tenaga pendidik di Indonesia. Pak, setiap guru juga manusia. Mereka memiliki keluarga, tanggung jawab dan kebutuhan untuk diri sendiri dan keluarga di rumah. Terlebih nasib guru di pedalaman, mereka seolah bekerja dengan hati dan pahala Tuhan. Namun kenyataannya, hidup juga memerlukan modal untuk tetap bertahan. Negara mengangkat pegawai PPPK menjadi ASN, namun bagaimana nasib guru honorer, Pak? Guru sekolah Dasar dan Menengah yang bahkan puluhan tahun mengabdi pun belum tentu mendapat jaminan kesejahteraan. Negara menuntut guru untuk menempuh pendidikan tinggi, mengikuti banyak pelatihan sebagai pengembangan diri, namun gaji yang diberikan terkadang masih membutuhkan sampingan. Tidak sedikit seseorang yang berprofesi sebagai guru menjadi peran ganda dalam lingkungan dunia yang lain.

 

Kesejahteraan tenaga pendidik bukan hanya terletak dari segi finansial saja, Pak. Namun juga pada beban sistem administrasi yang selalu menumpuk dan datang silih berganti. Kurikulum yang berlaku juga banyak mengalami transformasi. Beberapa transformasi kurikulum yang berlaku belum terlaksana dengan baik. Seperti, proyek penguatan profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan ini pasti sudah terkonsep dengan bagus oleh jajaran yang berwenang, namun pada kenyataannya pelaksanaan kegiatan ini belum terealisasi dengan baik secara merata. Kegiatan ini menuntut keterlibatan aktif, kolaborasi, dan kreativitas tinggi peserta didik, terutama di daerah dengan fasilitas terbatas mengakibatkan peserta didik menjadi kesulitan beradaptasi dan mengalami tekanan mental di luar jam akademik murni. Permasalahan ini tentu bukan hanya menyulitkan peserta didik saja, tetapi juga menjadi tantangan bagi kami sebagai guru. Terlebih jika krisis dukungan logistik, finansial dan akses untuk merealisasikan kebijakan kurikulum P5 tersebut.

 

Di tengah ekosistem dunia digital yang serba cepat dan bising ini, musuh utama peserta didik bukan lagi kebodohan, melainkan lemahnya daya konsentrasi siswa, Pak. Maka dari itu buat rekonstruksi kurikulum yang berfokus pada kualitas berpikir, bukan hanya sekadar mengejar target administratif belaka. Pembelajaran di tingkat dasar dan menengah harus diorientasikan dari sekadar mengejar ketuntasan kurikulum yang menjadi pendalaman berpikir anak. Kita memerlukan mekanisme baru, yang membatasi mekanisasi hafalan dan menggantinya dengan metode pembelajaran berbasis pengalaman konkret. Selain itu, guru di kelas juga harus dibebaskan dari penjara administrasi pelaporan yang menyita banyak waktu interaksi kami dengan murid. Mutu pendidikan akan lahir jika guru merdeka untuk membangun komunikasi dan intelektual yang lebih hidup, bukan hanya sekadar lembar kerja dengan target birokrasi.

 

Pak, tolong ubah pendidikan karakter menjadi pembiasaan etika lingkungan dan berinternet. Ancaman generasi muda saat ini, bukan hanya sebatas kenakalan remaja pada umumnya, melainkan krisis identitas di dunia digital. Anak-anak mudah kehilangan arah, kecanduan gawai atau kehilangan empati karena terlalu banyak berinteraksi di sosial media. Seperti cyberbullying, ujaran kebencian atau hidup hanya demi validasi di dunia maya saja. Selain itu, kerusakan alam juga menjadi tantangan saat ini. Anak-anak kurang peduli terhadap alam akibat gaya hidup modern yang serba instan. Pendidikan karakter tidak cukup hanya lewat "Teori di Kelas", bukan hanya sebatas ceramah, di mana siswa hanya tahu yang "Baik" dan "Buruk" di atas kertas saja. Solusinya, pendidikan karakter harus diubah menjadi aksi nyata dalam bentuk proyek kewargaan.

 

Bapak Presiden yang saya hormati...

Masa depan Indonesia tahun 2045 sangat ditentukan oleh kualitas keputusan yang diambil hari ini. Perubahan besar tidak akan pernah terjadi jika kita hanya fokus mengulang resep lama untuk menyelesaikan masalah baru yang jauh lebih kompleks.

 

Demikian surat ini saya sampaikan, dengan harapan dapat menjadi bahan perumusan kebijakan pendidikan dari akar permasalahan esensial. Atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak presiden dalam salam memajukan masa depan anak bangsa, saya ucapkan terima kasih.

 

 

Salam hormat.

~ Lihai Maratus Solihah.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

English answer

Biografi person